PT Indocentre International adalah perusahaan yang berbasis di Surabaya, Indonesia dan Beijing, China, yang menyediakan layanan barang dan jasa terpadu bagi pelaku usaha Indonesia–China dan China–Indonesia.

Follow Us

Setelah Merah Putih Diturunkan, Apa yang Kita Lakukan dengan Kemerdekaan?

Setelah Merah Putih Diturunkan, Apa yang Kita Lakukan dengan Kemerdekaan?

Setelah Merah Putih Diturunkan, Apa yang Kita Lakukan dengan Kemerdekaan?

Kemarin, 17 Agustus, banyak orang berdiri di bawah Merah Putih.

Ada yang berdiri di lapangan sekolah. Ada yang mengikuti upacara di kantor. Ada yang mengenakan pakaian adat. Ada pula yang bangun jauh sebelum matahari terbit demi mendapatkan kesempatan mengikuti upacara di Istana Merdeka. Sebagian warga bahkan sudah mengantre sejak sekitar pukul 02.00–03.00 WIB. Indonesia baru saja memperingati 81 tahun kemerdekaannya, dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”

Kemarin kita merayakan kemerdekaan. Hari ini, pertanyaannya sedikit berbeda:
Setelah upacara selesai, apa yang kita lakukan dengan kemerdekaan itu? Ada anak petani di balik barisan Paskibraka. Salah satu kisah yang muncul menjelang peringatan kemerdekaan tahun ini datang dari Kabupaten Bogor. Bupati Bogor Rudy Susmanto menceritakan latar belakang sejumlah anggota Paskibraka Kabupaten Bogor 2026. Di antara mereka ada anak petani, bahkan anak ketujuh dari tujuh bersaudara.

Ada pula seorang anggota perempuan yang kehilangan ayahnya ketika berusia enam tahun dan kehilangan ibunya ketika berusia 13 tahun. Mereka datang dari kehidupan yang tidak sama. Tetapi pada 17 Agustus, mereka berdiri dalam satu barisan untuk menjalankan tugas yang sama: mengibarkan Sang Merah Putih.

Kisah ini menarik bukan karena mereka kemudian menjadi terkenal, justru sebaliknya. Mereka mengingatkan kita bahwa sebuah kesempatan tidak selalu datang kepada orang yang hidupnya paling mudah. Kadang seseorang harus berjalan lebih jauh untuk sampai ke tempat yang sama. Kemerdekaan tidak pernah menjanjikan hidup yang mudah.

Ada sesuatu yang sering keliru kita pahami tentang kemerdekaan. Kita membayangkan orang merdeka sebagai orang yang hidupnya sudah bebas dari masalah. Padahal bukan itu, orang yang merdeka tetap bisa gagal. Tetap bisa kehilangan pekerjaan, tetap bisa kecewa, tetap bisa ditolak, tetap bisa menangis karena kehilangan orang yang dicintai, tetap bisa bangun pada pagi hari dengan pertanyaan besar tentang masa depan.

Kemerdekaan tidak membuat hidup menjadi mudah. Kemerdekaan memberi kita ruang untuk terus memperjuangkan hidup. Itulah sebabnya kisah anak petani dan anak yang kehilangan kedua orang tuanya terasa begitu dekat dengan makna kemerdekaan, mereka tidak menunggu hidup menjadi sempurna, mereka berjalan dengan apa yang mereka punya. Dan suatu hari, mereka berdiri membawa Merah Putih.

Ada juga orang-orang yang tidak lagi muda
Di Malang, ada cerita lain yang tidak kalah menarik. Dalam upacara HUT ke-81 RI di Perumahan Asabri Bumiayu Indah, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, para petugas upacara justru didominasi warga lanjut usia. Mereka mengenakan pakaian adat Nusantara dan menjalankan upacara dengan penuh antusiasme. Yang menarik, kegiatan tersebut bukan sesuatu yang baru. Upacara dengan konsep serupa sudah menjadi tradisi warga dan tahun ini memasuki tahun kelima.

Bayangkan, mungkin bagi sebagian orang, usia adalah alasan untuk mengurangi aktivitas. Tetapi bagi mereka, usia bukan alasan untuk berhenti mengambil bagian. Mereka masih datang, masih berdiri, masih mengenakan pakaian terbaik, masih ingin menjadi bagian dari perayaan bangsa yang mereka cintai.

Ada sesuatu yang sederhana tetapi kuat dari pemandangan itu, selama kita masih bisa berbuat sesuatu, kita belum selesai. Kemerdekaan juga terjadi pada hari biasa, hari ini bukan lagi 17 Agustus. Tidak ada upacara, tidak ada pengibaran bendera, tidak ada lomba panjat pinang, tidak ada lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan bersama di lapangan.

Kita kembali bekerja, anak-anak kembali sekolah, pedagang kembali membuka toko, petani kembali ke sawah, pengemudi kembali ke jalan, guru kembali mengajar, orang tua kembali memikirkan biaya rumah tangga. Pengusaha kembali menghadapi angka-angka yang tidak selalu menyenangkan dan mungkin justru di situlah kemerdekaan benar-benar diuji. Bukan ketika kita berdiri gagah selama beberapa menit di lapangan, tetapi ketika tidak ada seorang pun yang melihat, kita tetap memilih melakukan yang benar. Ketika pekerjaan sedang berat, kita tetap menyelesaikannya, ketika gagal, kita mencoba memperbaiki, ketika mempunyai kesempatan untuk membantu seseorang, kita tidak pura-pura tidak melihat, ketika berbeda pendapat, kita tidak langsung membenci. Ketika keadaan belum seperti yang kita inginkan, kita tidak kehilangan seluruh harapan.

Kemerdekaan membutuhkan manusia yang mau terus bergerak, bendera memang diturunkan. Semangatnya jangan, kemarin Merah Putih naik ke puncak tiang, hari ini bendera mungkin sudah diturunkan dan disimpan kembali. Tetapi jangan sampai semangatnya ikut disimpan, sebab Indonesia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu merayakan kemerdekaan. Indonesia membutuhkan orang-orang yang menghidupi kemerdekaan, tidak harus dengan sesuatu yang besar, mungkin dengan menjadi guru yang tetap sabar menghadapi muridnya. Menjadi ayah atau ibu yang tetap bekerja meski sedang lelah, menjadi anak yang tetap mengingat orang tuanyaenjadi pekerja yang jujur meskipun tidak ada yang mengawasi, menjadi pengusaha yang tetap mencoba setelah usahanya gagal, menjadi tetangga yang mau membantu, atau sekadar menjadi seseorang yang, setelah berkali-kali jatuh, berkata kepada dirinya sendiri: “Besok saya coba lagi.”

Itu pun sebuah bentuk keberanian, kemarin kita merayakan Indonesia yang telah merdeka selama 81 tahun. Hari ini kita kembali menjalani hidup masing-masing, mungkin hidup belum berubah. Masalah belum selesai, jawaban belum datang, tetapi kita masih mempunyai satu hal yang sangat penting: kesempatan untuk melanjutkan langkah. Dan selama masih ada kesempatan itu, cerita kita belum selesai.

Bendera boleh kembali turun dari tiangnya. Tetapi harapan tidak perlu ikut turun, tetap berjalan, tetap mencoba, tetap menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Karena mungkin kemerdekaan yang paling sederhana adalah ketika kita tidak membiarkan keadaan menentukan bahwa kita harus berhenti.


Sumber
- Sekretariat Negara RI — peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan upacara 17 Agustus 2026.
- ANTARA — kisah anggota Paskibraka Kabupaten Bogor dari latar belakang anak petani dan kehilangan orang tua.
- JATIMTIMES — upacara HUT ke-81 RI di Perumahan Asabri Bumiayu Indah, Malang, dengan petugas yang didominasi lansia.


"Kemerdekaan bukan hanya tentang bagaimana bangsa ini berhasil berdiri 81 tahun lalu. Kemerdekaan juga tentang bagaimana kita memilih untuk tetap berdiri hari ini."

Social: